SURABAYATODAY.ID, KEDIRI – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak menghadiri Pengukuhan Pengurus Dekranasda Kabupaten Kediri Masa Bakti 2025–2030 yang berlangsung di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Selasa (11/11).
Pengukuhan pengurus dilakukan oleh Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana berdasarkan Surat Keputusan Dekranasda Provinsi Jawa Timur Nomor 125/19.02/Dekran.Jatim/SK/IX/2025. Kegiatan ini juga dirangkai dengan Kediri Fashion Batik Festival (KFBF), yang menjadi ajang promosi sekaligus apresiasi bagi perajin batik dan pelaku ekonomi kreatif lokal.
Dalam sambutannya, Arumi menekankan pentingnya memperkuat sinergi antar-Dekranasda di berbagai daerah sebagai langkah strategis untuk mendorong kemajuan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal dan kearifan budaya daerah masing-masing.
“Dekranasda memiliki posisi strategis sebagai wadah pembinaan dan pengembangan industri kecil dan menengah di bidang kerajinan, kriya, dan fashion lokal. Melalui pelatihan, promosi, dan pameran, Dekranasda menjadi penjalin sinergi antara perajin, pemerintah, dan masyarakat,” ujar Arumi.
Ia menegaskan pengurus Dekranasda harus aktif dalam pembinaan berkelanjutan, tidak hanya bersifat seremonial. Pendampingan bagi perajin pemula, fasilitasi pelatihan, bantuan permodalan, serta pemasaran digital menjadi kunci keberhasilan organisasi dalam meningkatkan daya saing produk lokal.
Selain itu, Arumi juga menekankan pentingnya sinergi antara Dekranasda dan Tim Penggerak PKK, sebagai dua organisasi yang saling memperkuat peran dalam memberdayakan masyarakat.
“Dekranasda dan PKK ibarat dua sisi mata uang, saling melengkapi dan memperkuat. Keduanya memiliki tujuan sama: memberdayakan keluarga, meningkatkan kreativitas, serta memperkuat peran perempuan dalam pembangunan ekonomi dan sosial,” jelasnya.
Kegiatan Kediri Fashion Batik Festival (KFBF) menjadi salah satu media nyata untuk menampilkan karya perajin lokal sekaligus melestarikan budaya. Arumi menekankan festival ini bukan sekadar ajang peragaan busana, tetapi juga media penguatan identitas daerah dan pengembangan ekonomi kreatif.
“Motif Batik Kediri seperti Dhoho, Candi Tegowangi, Lidah Api, dan Simpang Lima Gumul tidak hanya indah, tetapi sarat filosofi tentang karakter masyarakat Kediri yang ramah, tekun, dan berbudaya,” ujarnya.
Arumi berharap festival ini terus digelar secara konsisten sebagai wadah ekspresi, promosi, dan penguatan identitas daerah, sekaligus membuka akses pasar lebih luas bagi UMKM dan perajin lokal.
Lebih lanjut, Arumi menekankan pentingnya peningkatan kualitas dan daya saing produk kriya lokal. Produk Kediri harus dikenal bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga kualitas, keunikan, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Di era digital, pemasaran online menjadi kunci utama untuk memperluas jangkauan pasar, sehingga Dekranasda harus adaptif terhadap teknologi dan tren industri kreatif global,” tuturnya.
Dekranasda juga berperan sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Dengan pendampingan berkelanjutan, kolaborasi dengan pemerintah, dan inovasi kreatif, Dekranasda akan mampu menghadirkan dampak nyata bagi perajin, UMKM, dan masyarakat luas,” ungkapnya.
Di akhir acara, Arumi berharap pengurus baru menjadikan momentum ini sebagai titik awal untuk menggerakkan Dekranasda secara aktif, inovatif, dan berdampak nyata.
“Dekranasda bukan sekadar wadah seremonial, tetapi organisasi pembina, penggerak, dan inspirator bagi industri kreatif daerah. Teruslah berinovasi, berkreasi, dan berkolaborasi. Dari tangan-tangan kreatif inilah lahir karya yang membanggakan Jawa Timur di mata bangsa,” pungkas Arumi. (ST02)





