SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menargetkan lima rumah pompa baru di sejumlah kawasan mulai beroperasi pada 1 Desember 2026. Kehadiran infrastruktur tersebut diharapkan mampu mempercepat aliran air dan mengurangi potensi genangan saat musim penghujan.
Lima rumah pompa yang tengah dibangun itu berada di kawasan Jalan Nginden Intan Timur, Panjang Jiwo, Dharmahusada, Tambak Segaran, dan Tanjungsari.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Aning Rahmawati, menegaskan bahwa pembangunan rumah pompa merupakan bagian dari perencanaan penanganan banjir yang telah melalui kajian teknis.
Menurutnya, seluruh proyek yang telah dianggarkan pada 2026 harus dilaksanakan sesuai perencanaan dan mengacu pada Surabaya Trinit Master Plan (STMP).
“Semua yang sudah dianggarkan di tahun 2026 itu sudah berdasarkan kajian dan sudah berdasarkan STMP. Master plan-nya memang harus dibangun rumah pompa,” ujar Aning Rahmawati.
Politisi tersebut berharap pembangunan lima rumah pompa dapat diselesaikan tepat waktu sehingga mampu beroperasi sesuai target yang telah ditetapkan Pemkot Surabaya.
Ia mengingatkan, keterlambatan penyelesaian proyek berpotensi mengurangi efektivitas penanganan banjir, terutama ketika curah hujan tinggi mulai melanda Kota Surabaya.
“Jangan rumah pompa dibangun tapi belum selesai sehingga banjir juga masih terjadi dan malah besar karena rumah pompa belum berfungsi,” tegasnya.
Aning menilai, pengawasan terhadap pelaksanaan proyek perlu terus diperkuat. Selain melakukan inspeksi mendadak (sidak), Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga diminta memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai jadwal.
Ia juga mengingatkan agar pelaksanaan proyek tidak terkendala persoalan anggaran yang dapat berdampak pada penyelesaian pembangunan.
Menurut Aning, berdasarkan informasi yang disampaikan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, progres fisik sejumlah pekerjaan yang telah disepakati bersama Komisi C DPRD Surabaya hampir seluruhnya mencapai 90 persen.
Capaian tersebut diharapkan menjadi modal untuk memastikan infrastruktur pengendalian banjir dapat berfungsi optimal sebelum puncak musim penghujan.
“Dari apa yang disampaikan oleh DSDABM Kota Surabaya, secara fisik hampir semua pekerjaan yang sudah digedok oleh Komisi C dan disepakati untuk warga Kota Surabaya itu sudah 90 persen selesai,” ungkapnya.
Aning menegaskan, rumah pompa harus benar-benar beroperasi ketika hujan mulai turun. Sebab, apabila infrastruktur tersebut belum berfungsi, kawasan yang seharusnya terlindungi justru berpotensi menjadi titik genangan atau banjir baru.
Ia pun berharap Pemkot Surabaya dapat menuntaskan seluruh pekerjaan sesuai target, sebagaimana arahan Wali Kota Eri Cahyadi saat melakukan sidak pada 1 November 2026. “Harapannya 100 persen di 2026 tidak ada banjir lagi,” pungkasnya. (ADV-ST01)


Tinggalkan Balasan