SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Berangkat dari persoalan nyata, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan sejumlah solusi berbasis teknologi untuk mendorong kemandirian masyarakat Papua Barat. Laporan kemajuan program TEP ITS dipaparkan kepada Menteri Transmigrasi (Mentrans) RI Dr Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara SH MA saat melakukan kunjungan di Distrik Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat, Sabtu (12/9) lalu.

Dalam kunjungan tersebut, TEP ITS melaporkan kemajuan tiga tema unggulan yang dijalankan di Manokwari Selatan, yakni digitalisasi layanan publik di Distrik Ransiki, energi baru dan terbarukan di Distrik Oransbari, serta transformasi pendidikan melalui Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di Distrik Momi Waren. Selain mendengarkan paparan, Mentrans juga berdialog langsung dengan masyarakat setempat.

TEP 05 ITS yang bertugas di Distrik Ransiki menyampaikan hasil dari program digitalisasi layanan administrasi kependudukan untuk pengurusan Kartu Keluarga (KK) dan akta kelahiran. Ketua TEP 05 ITS Yogantara Satya Dharmawan SKom MBusProcessMgt menjelaskan bahwa saat ini masyarakat masih harus datang langsung ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) di Ransiki untuk mengurus dokumen kependudukannya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi warga yang tinggal jauh dari Distrik Ransiki. Masyarakat di Distrik Dataran Isim misalnya, harus menempuh perjalanan sekitar 100 kilometer dengan waktu tempuh hingga 2 jam 30 menit untuk menuju Ransiki. “Pengurusan dokumen yang tidak selalu dapat diselesaikan dalam satu hari juga membuat warga harus melakukan perjalanan jauh lebih dari sekali,” ungkap lelaki yang akrab disapa Yoga tersebut.

Melalui sistem digital berbasis web yang dikembangkan oleh TEP 05 ITS, kini masyarakat dapat mengajukan permohonan pembuatan KK dan akta kelahiran melalui gawai masing-masing. Warga pun cukup datang satu kali ke Ransiki untuk mengambil dokumen yang telah selesai diproses melalui gawai.
Pengembangan program ini selanjutnya akan diperluas ke bidang pendidikan dan kesehatan melalui kerja sama dengan dinas terkait. Dalam hal ini, TEP 05 ITS juga menyiapkan Tim Kader Patriot (TKP) serta pelatihan bagi masyarakat dan perangkat daerah setempat sebagai pengelola program.

Sementara itu, kebutuhan terkait energi di masyarakat dijawab oleh TEP 08 ITS melalui pemanfaatan potensi lokal di Kampung Margorukun, Distrik Oransbari. Tim yang diketuai oleh Dr Ir Arief Abdurrakhman ST MT ini mengembangkan reaktor biogas dengan memanfaatkan kotoran ternak yang banyak ditemui di wilayah ini.

Program tersebut berangkat dari permasalahan yang dialami oleh masyarakat Kampung Margorukun, di mana minyak tanah yang digunakan untuk memasak semakin langka, sedangkan harga gas elpiji relatif mahal. Distrik Oransbari juga masih menghadapi permasalahan pemadaman listrik yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Di sisi lain, masyarakat Kampung Margorukun biasa beternak sapi dengan cara dilepas bebas. “Dengan penanganan yang tepat, kotoran ternak dapat dimanfaatkan menjadi biogas untuk memasak dan dapat dikonversi menjadi energi listrik,” tutur dosen Departemen Teknik Instrumentasi ITS.

Menjawab permasalahan tersebut, Arief bersama TEP 08 ITS mengolah kotoran ternak menjadi sumber energi melalui reaktor biogas. Energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memasak dan dikonversi menjadi energi listrik melalui generator stasioner. Sisa pengolahan berupa bioslurry juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani padi.

Dari sektor pendidikan, TEP 03 ITS yang diketuai oleh Prof Subchan SSi MSc PhD menghadirkan program penguatan literasi, numerasi, STEM, dan perilaku hidup sehat bagi siswa-siswi di Distrik Momi Waren. Dalam paparannya, salah satu anggota TEP 03 ITS Azizah menjelaskan bahwa program tersebut telah berjalan dengan berbagai bentuk kegiatan.

TEP 03 ITS konsisten dalam mendampingi siswa-siswi agar lancar membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu, peningkatan kapasitas guru juga dilakukan melalui pelatihan Training of Trainers (ToT). Untuk mendukung program, TEP 03 ITS juga merancang modul literasi numerasi dan STEM.

Dalam kunjungan Mentrans tersebut, TEP 03 ITS mendemonstrasikan modul literasi numerasi dan STEM. Modul STEM dirancang untuk mengenalkan pembelajaran berbasis sains dan teknologi dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal. Pada kesempatan yang sama, dilakukan serah terima sebanyak 3.000 modul literasi numerasi dan STEM secara simbolis.

Perwakilan guru SMA Negeri 1 Momi Waren, Eva, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada TEP ITS atas dedikasinya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Manokwari Selatan. Guru SD dan SMP di Momi Waren juga telah menerima kedua modul tersebut sekaligus mendapatkan pelatihan penggunaannya.

Berbagai program yang dipaparkan mendapat apresiasi dari Mentrans yang akrab disapa Iftitah tersebut. Ia menegaskan bahwa program transmigrasi harus mampu memberdayakan masyarakat Papua agar dapat meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri. Manfaatnya pun tidak hanya ditujukan kepada masyarakat transmigran, tetapi juga kepada masyarakat Papua secara keseluruhan.

Menurut Iftitah, transmigrasi bukan sekadar memindahkan masyarakat dari satu tempat ke tempat lain, melainkan memastikan masyarakat menjadi berdaya. Ia pun mengapresiasi kerja nyata TEP ITS, khususnya pembentukan Tim Kader Patriot (TKP) yang dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program setelah tim ekspedisi kembali.

TKP terdiri atas masyarakat dan perangkat daerah setempat yang telah dibekali keahlian untuk melanjutkan program sesuai kebutuhan wilayah. Konsep tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan TEP ITS dalam memastikan inovasi tidak berhenti setelah masa ekspedisi berakhir. “Pembentukan TKP merupakan inisiatif yang sangat tepat, karena keberlanjutan program adalah yang paling penting,” tegas Iftitah.

Sebagai penguatan kolaborasi, rangkaian kunjungan tersebut ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara ITS, Universitas Papua (Unipa), dan Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB) terkait keberlanjutan Program Patriot. Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sarana Prasarana ITS Dr Machsus ST MT menjelaskan bahwa ITS memiliki keterbatasan waktu dan jarak untuk menjamin keberlanjutan program, sehingga dibutuhkan perpanjangan tangan dari institusi setempat.

“Untuk itu, kami berinisiatif menjalin kerja sama dengan Unipa dan UMPB supaya program yang sudah berjalan dengan baik dapat terus berlanjut,” pungkasnya.

Melalui digitalisasi layanan publik, pemanfaatan energi terbarukan, dan penguatan pendidikan berbasis STEM, TEP ITS menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat dirancang dari kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi jalan untuk membangun kemandirian di Papua Barat. Upaya ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, poin ke-11 tentang Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (ST05)