SURABAYATODAY.ID, PROBOLINGGO – Mahasiswa KKN di Pondok Pesantren Darut Tauhid, Patemon, Krenjengan, Kabupaten Probolinggo, memperkenalkan sistem budidaya ikan dalam ember atau budikdamber yang dikombinasikan dengan aquaponik pada 19 Agustus 2026. Program tersebut memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan pesantren untuk menghasilkan ikan sekaligus tanaman melalui sistem pengairan yang bersirkulasi.

Program ini berangkat dari hasil pengamatan mahasiswa KKN terhadap kondisi lingkungan Pondok Pesantren Darut Tauhid. Keterbatasan lahan menjadi salah satu kendala dalam mengembangkan kegiatan budidaya.

Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa KKN untuk mengembangkan sistem yang dapat memanfaatkan ruang terbatas untuk kegiatan budidaya ikan dan tanaman secara bersamaan.

Melalui budikdamber aquaponik, ikan lele dipelihara di dalam ember yang ditempatkan pada bagian bawah sistem. Air dari ember kemudian dialirkan menggunakan pompa menuju pipa PVC yang berada di bagian atas.

Pipa tersebut menjadi media untuk menanam kangkung. Setelah melewati media tanaman, air kembali dialirkan menuju ember sehingga membentuk sistem pengairan yang terus bersirkulasi.

Sistem tersebut memanfaatkan air dari kolam ikan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. Sisa metabolisme ikan yang terkandung dalam air dapat dimanfaatkan oleh tanaman, sementara tanaman membantu menyerap sebagian nutrisi dari air sebelum air kembali ke wadah ikan.

Dengan sistem ini, penggunaan air dapat dilakukan secara berulang dalam satu rangkaian budidaya.

Dalam pembuatan sistem, mahasiswa KKN terlebih dahulu menyiapkan pipa PVC yang kemudian dilubangi dengan jarak sekitar 10 hingga 15 sentimeter. Ukuran lubang disesuaikan dengan wadah tanaman yang digunakan.

Pipa tersebut kemudian ditempatkan di atas ember menggunakan rangka besi agar memiliki posisi yang stabil dan memungkinkan air mengalir dari pompa menuju media tanaman.

Setelah rangkaian pipa dan ember tersusun, air dimasukkan ke dalam ember dan pompa dipasang untuk menguji aliran air. Pengujian dilakukan untuk memastikan air dapat bergerak dari ember menuju pipa tanaman dan kembali lagi ke ember.

Setelah sistem berjalan, ikan lele dan tanaman kangkung dimasukkan ke dalam sistem budidaya.

Pemilihan ikan lele dilakukan karena jenis ikan tersebut relatif kuat dan dapat dibudidayakan dalam berbagai kondisi lingkungan.

Sementara itu, kangkung dipilih sebagai tanaman karena dapat dibudidayakan melalui sistem aquaponik dengan media tanam sederhana seperti rockwool.

Selain memanfaatkan lahan yang terbatas, budikdamber aquaponik juga menjadi sarana edukasi bagi santri mengenai konsep budidaya yang menggabungkan ikan dan tanaman dalam satu sistem.

Santri dapat melihat secara langsung bagaimana air dari wadah ikan dialirkan menuju tanaman dan kembali lagi ke wadah ikan.

Melalui program ini, mahasiswa KKN berharap lahan terbatas di lingkungan Pondok Pesantren Darut Tauhid tetap dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

Sistem budikdamber aquaponik juga diharapkan dapat menjadi alternatif budidaya yang mudah diterapkan serta memberikan pemahaman kepada santri mengenai pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.