SURABAYATODAY.ID,PASURUAN – Ancaman bencana hidrometeorologi, khususnya tanah longsor, menjadi perhatian serius di Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan (HMP IKOR) resmi memulai Program Bentala Siaga.
Program bertajuk “Bentala Siaga: Inovasi Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Desa Tlogosari Terintegrasi Smart Early Warning System dan Konservasi Lereng Berbasis Sustainable Community Empowerment” itu resmi dibuka melalui Grand Opening di Balai Desa Tlogosari, 15 Juni 2026.
Program Bentala Siaga tercatat sebagai salah satu program PPK Ormawa 2026 dari UNESA yang lolos pendanaan nasional. PPK Ormawa sendiri merupakan program penguatan organisasi mahasiswa yang diimplementasikan melalui kegiatan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan pembukaan dihadiri dosen pendamping, perwakilan Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UNESA, Kepala Desa Tlogosari Prayitno beserta perangkat desa, tokoh masyarakat, kader PKK, Posyandu, Karang Taruna, hingga masyarakat setempat.
Ketua Tim PPK Ormawa HMP IKOR UNESA, Pranoto Darma Binar, mengatakan Bentala Siaga lahir dari hasil identifikasi persoalan dan potensi yang dimiliki Desa Tlogosari.
Menurutnya, risiko tanah longsor menjadi salah satu persoalan yang perlu direspons melalui langkah mitigasi yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga melibatkan kesiapsiagaan masyarakat dan konservasi lingkungan.
“Program Bentala Siaga dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi permasalahan dan potensi Desa Tlogosari, khususnya terkait risiko tanah longsor. Selanjutnya, hal tersebut dibahas dan disepakati bersama perangkat desa, warga, serta mitra internal sebagai dasar pelaksanaan program,” ujar Pranoto.
Tim PPK Ormawa HMP IKOR UNESA membawa lima inovasi utama dalam program tersebut. Pertama, PANDAWA, sistem peringatan dini yang memanfaatkan sensor curah hujan, kelembaban, dan stabilitas lereng secara real-time.
Kedua, Portal SIGAP, sebagai media informasi kebencanaan berbasis website desa. Ketiga, JANGKAR LERENG, berupa penyusunan SOP dan pendampingan prosedur evakuasi yang terstruktur.
Selanjutnya, AKAR LESTARI yang berfokus pada konservasi lereng melalui penanaman vegetasi penguat tanah. Sementara inovasi kelima, SIRAGA, diarahkan untuk membentuk kader masyarakat siaga bencana.
Pelaksanaan program melibatkan 15 anggota Tim PPK Ormawa HMP IKOR UNESA dari lintas disiplin ilmu, yakni S1 Ilmu Keolahragaan, S1 Teknik Elektro, S1 Teknik Informatika, dan S1 Desain Komunikasi Visual. Selain itu, terdapat 11 volunteer dari HMP IKOR dan mahasiswa Ilmu Keolahragaan.
Kolaborasi lintas bidang tersebut berada di bawah pendampingan dosen Yetty Septiani Mustar, S.K.M., M.P.H. dan diarahkan untuk menghadirkan solusi yang memadukan teknologi, konservasi, serta pemberdayaan masyarakat.
Program ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta SDGs 15 tentang Ekosistem Daratan. PPK Ormawa 2026 secara umum memang diarahkan agar program mahasiswa memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Kepala Desa Tlogosari, Prayitno, menyambut baik kehadiran program tersebut. Ia menilai Bentala Siaga menjadi langkah positif untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana tanah longsor.
“Pemerintah Desa Tlogosari menyambut baik dan mendukung pelaksanaan Program Bentala Siaga. Ini menjadi langkah positif untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana tanah longsor,” kata Prayitno.
Ia menegaskan pemerintah desa berkomitmen mendukung setiap tahapan pelaksanaan program agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat dan sesuai dengan kebutuhan Desa Tlogosari.(ST11)


Tinggalkan Balasan