SURABAYATODAY.ID.SIDOARJO – Di tengah minimnya fasilitas dan perhatian terhadap pembinaan akar rumput, SSB Spartak Krian justru tampil konsisten menggaungkan pentingnya pembinaan usia dini. Berlatih di lapangan desa Tambak Kemerakan, Krian, mereka menegaskan ambisi besar: mencetak generasi pesepak bola masa depan untuk Indonesia.
Puluhan pemain muda digembleng tak hanya soal teknik, tetapi juga mental bertanding, disiplin, dan karakter. Spartak Krian tak ingin sekadar menjadi tempat latihan, melainkan kawah candradimuka bagi talenta muda.
Pelatih Spartak Krian, Budi, menegaskan bahwa pembinaan sejak dini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan jika ingin sepak bola Indonesia berkembang.
“Kalau ingin punya pemain berkualitas, ya harus dimulai dari bawah. Kami fokus membentuk dasar teknik, mental, dan disiplin. Anak-anak ini yang nantinya jadi masa depan sepak bola kita,” tegasnya.
Senada, pelatih U-16 Edy menekankan bahwa proses panjang dan konsistensi menjadi kunci utama. Ia bahkan menyebut pembinaan usia dini seringkali kurang mendapat perhatian serius.
“Pembinaan ini tidak bisa instan. Butuh proses panjang dan kesabaran. Kami dorong mereka agar terbiasa dengan latihan yang kompetitif dan terarah. Harapannya jelas, mereka bisa naik level dan membawa nama daerah,” ujarnya.
Langkah Spartak Krian ini menjadi gambaran nyata bahwa geliat sepak bola nasional tak hanya bergantung pada klub besar, tetapi juga pada SSB di tingkat desa. Dari lapangan sederhana di Tambak Kemerakan, mimpi besar itu terus dirawat.
Dengan dukungan orang tua dan semangat para pemain muda, Spartak Krian optimistis mampu melahirkan talenta-talenta potensial yang tak hanya bersinar di level lokal, tetapi juga menembus panggung nasional—membawa harapan baru bagi masa depan sepak bola Indonesia.(ST11)







