SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menghadiri Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) II Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Minggu (26/4).
Bertemakan “Gerakan Perempuan Muda Untuk Masa Depan Berkelanjutan”, acara ini sekaligus wadah peluncuran Sahabat Aduan dan Ruang Aman Nasyiah (SAHARA) yang diinisiasi oleh Nasyiatul Aisyiyah. Di mana, ini merupakan fasilitas bagi perempuan untuk menyampaikan aduan, mendapatkan pendampingan, serta akses ruang aman yang terintegrasi lewat hotline pengaduan 0813 2963 143.
Dalam sambutannya, Wagub Emil menekankan bahwa peluncuran SAHARA ini penting sebagai solusi berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Terlebih masalah keluarga yang seringkali berdampak pada kehidupan pendidikan, pekerjaan, juga kesehatan mental individu.
“Fokus dengan pekerjaan saja seringkali masih susah, apalagi kalau ditambah masalah keluarga. Nah, kadang-kadang masalah keluarga takut di-share dengan orang lain, sehingga saya takut bahwa tidak ada tempat untuk masyarakat bercerita. Maka, SAHARA ini jadi sangat penting untuk wadah berkeluh-kesah,” kata Wagub Emil.
Kehadiran SAHARA sebagai ruang yang aman, responsif, dan terpercaya menurutnya juga sejalan dengan program-program Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Program ini diyakininya dapat menyelesaikan akar masalah seperti pernikahan dini dan kekerasan dalam rumah tangga.
“Tingginya angka-angka kejadian itu berkorelasi dengan peristiwa-peristiwa yang sudah terlambat ditangani. Bahkan sebagai pemerintah, sudah tidak mungkin kami sendiri, kami perlu dukungan. Karena belum tentu juga masyarakat berani menyampaikan masalahnya kepada pemerintah lewat dinas-dinas terkait,” ujarnya.
Sebagai mitra yang terus berkolaborasi dengan pemerintah setempat, Nasyiatul Aisyiyah dipercaya dapat menjadi kunci dalam menghadirkan layanan yang lebih dekat dengan masyarakat. Sehingga, dirinya mendukung penuh kehadiran SAHARA.
“Penyelesaiannya harus gradual, tidak bisa langsung, karena mereka membutuhkan proses untuk bisa terbuka dan mendapatkan pendampingan. Tapi insya Allah, kita yakin layanan ini bisa memastikan akses perempuan dan anak terhadap perlindungan yang cepat, tanggap, dan responsif,” tuturnya.
Lebih jauh, ia juga mengingatkan pentingnya melihat persoalan sosial tidak hanya sebatas data statistik, melainkan sebagai realitas kasuistik berbeda yang dialami individu dengan latar belakang masing-masing.
“Kalau kita bicara angka, itu makro. Tapi setiap kasus itu ada manusia dengan persoalan dan penderitaannya sendiri. Seandainya saja banyak layanan seperti SAHARA sejak awal, mungkin cerita-cerita ini akan berbeda. Itulah yang ingin dicapai melalui SAHARA hari ini,” pungkasnya.(ST02)





