SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono menerima secara langsung audiensi dengan tim Trajectory Co., Ltd. dan Chiba Institute Of Science di Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Senin (19/1).
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan senantiasa mendukung Feasibility Study on Unmanned Aerial System (UAS) Line Operations for Disaster Prevention and Mitigation.
Lewat penelitian ini, akan dilakukan pengembangan sistem pesawat tanpa awak (drone) untuk mitigasi dan penanggulangan bencana. Mengingat, Jawa Timur terletak di wilayah ring of fire yang membuatnya rawan akan berbagai bencana alam.
“Jadi Jawa Timur ini termasuk dalam wilayah berisiko tinggi, khususnya hidrometeorologis yang puncaknya ada di Januari ini. Maka, kami butuh drone untuk menanggulangi bencana dengan tingkat akurasi dan respon tinggi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur sangat mendukung ini,” katanya.
Adopsi teknologi Jepang seperti disebut Sekdaprov Adhy bukanlah yang pertama. Sebelumnya, pihaknya juga pernah mengadopsi dan mengimplementasikan koordinasi kebencanaan melalui adopsi incident command center dan mobile command center yang dimiliki Jepang.
Sehingga, diharapkannya penelitian pada UAS Line akan menguatkan kerjasama dan sinergitas yang dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Pemerintah Jepang.
“Intinya kami selalu mendukung guna memastikan penanganan bencana berjalan cepat, terkoordinasi, dan tentunya berbasis data. Kami juga berharap teknologi ini bisa digunakan di Indonesia pertama kali diimplementasikan di Jawa Timur,” ungkapnya.
Meski kini masih difokuskan untuk penanggulangan bencana, nantinya, UAS Line dapat digunakan untuk keperluan masyarakat sehari-hari. Seperti pengantaran barang maupun monitoring keadaan lanskap di Jawa Timur.
Untuk sekarang ini, Sekdaprov Adhy mengatakan bahwa hal yang paling utama dilakukan adalah peraturan penggunaan. Setelahnya, perlu ada ketentuan rute dan proses implementasinya dalam kebencanaan.
Sementara itu, perwakilan dari Trajectory Co., Ltd. Kenji Koseki menyampaikan apresiasinya atas kerjasama berbagai elemen seperti Pemprov Jatim, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Budi Luhur University (UBL) dalam penelitian ini.
Saat ini di Jepang, jangkauan operasional drone mencapai hingga 40 kilometer dengan ketinggian terbang 150 meter dari permukaan tanah. Namun, dengan izin khusus, drone bisa diterbangkan lebih tinggi dari ketentuan yang berlaku.
“Penggunaan drone di Jepang sudah sangat lumrah, bukan hanya untuk bencana tapi juga penggunaan sehari-hari. Karena populasi lansia di Jepang lebih tinggi dibandingkan jumlah tenaga muda, para orang tua memakai ini untuk memesan obat dan lainnya,” terangnya.
“Saya yakin di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, teknologi seperti ini bisa lebih pesat dikembangkan. Yang penting sekarang kita tentukan dulu regulasi dan rute untuk drone bencana seperti ini,” pungkas Kenji. (ST02)





