SURABAYATODAY.ID, JEMBER – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melakukan Salat Tarawih di Masjid Jami’ Al Baitul Amien Kabupaten Jember, Sabtu (8/4) malam. Usai salat, dilanjutkan berkeliling untuk menikmati arsitektur Masjid Jami’ Jember yang lekat dengan warna putih dan emas ini.
Tak ada catatan resmi soal tanggal berdirinya masjid tersebut. Dokumen pemerintah Belanda hanya menyebutkan bangunan masjid itu berdiri di atas tanah eigendom verpoding nomor 981 tertanggal 19 Desember 1894, dengan luas 2.760 meter persegi. Sebuah catatan milik takmir menyebutkan, masjid lama pernah sekali direnovasi pada 1939.
Selain menjadi pusat peribadatan masyarakat muslim di Jember, masjid ini juga merupakan lanskap bersejarah. Tidak hanya karena usianya yang tua, namun juga karena ada kisah partisipasi rakyat di sana.
Dikutip dari buku Wakil Rakyat Kabupaten Jember Tempo Doeloe dan Sekarang, Soewarno Soetopamekas saat menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong Jember 1958-1960, mengambil inisiatif untuk merenovasi masjid tersebut dengan botol. Rakyat menyambut ajakan Soewarno. Mereka membawa botol-botol bekas ke alun-alun untuk dijual.
Gerakan partisipasi rakyat itu kembali terulang pada masa pemerintahan Bupati Abdul Hadi pada 1973-1978. Saat itu Pemerintah Kabupaten Jember membangun sebuah masjid baru di sisi utara seberang masjid tua, di Jalan Raya Sultan Agung.
Masjid baru ini dirancang Yaying K. Kesser, alumnus perguruan tinggi di California, Amerika Serikat. Berbeda dengan masjid tua, masjid baru ini dibangun dengan bentuk bangunan yang mirip gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Jakarta. Bangunan masjid berbentuk kubah dengan satu menara.
Pembangunan masjid baru tentu membutuhkan biaya besar. Rakyat kembali berpartisipasi dengan menyumbangkan 11 ribu ton gabah hasil panen, sehingga terkumpul uang Rp 518 juta. Masjid baru ini kemudian diresmikan pada 3 Mei 1976.
Saat ini, peribadatan digelar di masjid baru. Sementara masjid lama peninggalan masa kolonial Belanda digunakan untuk sekolah dasar yang dikelola Yayasan Al Baitul Amien.


“Masjid ini adalah simbol sejarah perjuangan masyarakat. Juga tempat ini adalah pusat bersatunya seluruh umat Islam di Jember untuk melakukan ibadah,” kata Khofifah.
Masjid Jami’ Baitul Amien memiliki beberapa bangunan dan mampu menampung jamaah hingga ribuan jamaah. Bagian dalam masjid ini juga dirancang dengan indah, dengan dinding-dinding berwarna putih dan hijau yang dihiasi kaligrafi dan ornamen Islami yang indah.
Selain itu, masjid ini juga dilengkapi dengan ruang kelas, ruang rapat, ruang tahlil, dan ruang perpustakaan. Setiap harinya, Masjid Jami’ Baitul Amien selalu ramai dikunjungi oleh jamaah yang datang untuk menunaikan ibadah sholat lima waktu dan sholat Jumat.
“Masjid ini juga menjadi pusat kegiatan keagamaan di kota Jember, dengan sering dilaksanakan acara-acara keagamaan seperti pengajian, tausiyah, dan seminar,” terang mantan Menteri Sosial ini.
“Keberadaan Masjid Jami’ Baitul Amien menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan masih menjadi prioritas bagi masyarakat Jember. Meskipun sudah berdiri sejak lama, namun pengaruh dan makna yang dibawanya sangat penting bagi masyarakat sekitar. Masjid Jami’ Baitul Amien menjadi sebuah tempat yang menyatukan umat di Kota Jember,” lanjutnya. (ST02)





