SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Jelang tahun ajaran baru, pihak sekolah ada yang menggelar wisuda untuk pelepasan siswa-siswinya yang dinyatakan lulus. Wisuda ini sangat beragam, mulai dari lembaga pendidikan TK, SD, SMP dan SMA.
Namun sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya pada pendidikan dasar di wilayah kabupaten/kota, Komisi D DPRD Kota Surabaya mengingatkan pengelola sekolah agar tidak menggelar acara wisuda kelulusan itu. Apalagi, wisuda tersebut memberatkan para orang tua siswa.
“Sejak dua tahun terakhir setiap jelang kelulusan sekolah, kami selalu mendapat keluhan tentang acara pelepasan yang menyerupai wisuda mahasiswa,” kata Ketua Komisi D DPRD Surabaya Khusnul Khotimah.
Menurut dia, wisuda kelulusan yang digelar secara berlebihan bakal membebani orang tua. Karena ada sekolah yang memungut biaya untuk pelaksanaan wisuda tersebut. Meskipun di beberapa sekolah, ada pula wisuda yang tidak dibebani biaya. Artinya, siswa tidak perlu membayar.
Khusnul menerangkan namun kini telah santer adanya penolakannya dari para orang tua siswa, terutama tentang adanya lembaga pendidikan yang memungut biaya. Keluhan tentang penolakan itu umumnya disampaikan melalui media sosial.
“Sebenarnya wisuda ini sah-sah saja, asal tidak memberatkan orang tua. Namun di tengah pemulihan ekonomi seperti sekarang, wisuda di sekolah dianggap memberatkan orangtua. Sebab biayanya cukup mahal,” ujarnya.
Menindaklanjuti masalah ini, kata Khusnul, Komisi D DPRD Surabaya mengingatkan Dinas Pendidikan Surabaya agar bersikap. Dinas Pendidikan diminta membuat surat imbauan atau edaran kepada sekolah yang menjadi kewenangannya. Surat itu intinya tidak mengizinkan sekolah menggelar wisuda yang memberatkan orang tua.
“Kan kegiatan pelepasan siswa bisa dialihkan ke acara yang lebih mendidik. Misalnya, penampilan minat dan bakat siswa. Itu lebih menarik,” terang Khusnul.
Tak hanya acara wisuda, lanjut dia, larangan juga perlu diterapkan untuk acara yang membebani orang tua seperti acara study tour, pemberian tali asih yang dikumpulkan atau meminta sumbangan orangtua, dan lainnya.
“Dari orang tua dimintai pembayaran untuk hal-hal seperti itu, lebih baik uangnya digunakan untuk biaya melanjutkan pendidikan. Sebab saat masuk sekolah di jenjang lebih tinggi, membutuhkan biaya lagi,” tuturnya. (ADV-ST01)






