SURABAYATODAY.ID, JAKARTA — Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak didapuk menjadi salah satu pembicara utama dalam ajang bergengsi Indonesia Impact Investment Summit (IIIS) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesia Impact Alliance di Ballroom Hotel Pullman Jakarta, Rabu (21/10).
Dalam forum tersebut, Wagub Emil memaparkan berbagai kiat sukses pertumbuhan ekonomi Jatim salah satunya lewat penguatan pembiayaan berdampak atau impact financing guna mendorong daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Ia menjelaskan, urgensitas akan pembiayaan UMKM dikarenakan masih banyak yang belum tersentuh perkreditan. Dari total 4,59 juta UMKM di Jatim, 99,7% diantaranya adalah usaha mikro. Sedangkan nilai kredit bank yang mengalir ke UMKM melalui program KUR hanya 36,7%, sehingga intervensi pembiayaan berbiaya murah sangat dibutuhkan untuk menjaga daya tahan ekonomi kecil.
Hal itu ternyata berbanding terbalik dengan catatan persentase UMKM berkinerja buruk (non-performing) Jatim yang terendah di Pulau Jawa, yaitu hanya sebesar 1,97%.
“Angka ini membuktikan kedisiplinan dan keandalan para pelaku usaha kecil di Jatim dalam memenuhi kewajiban kredit. Jika dibandingkan dengan nasional yaitu 2,24% dan rata-rata Pulau Jawa yaitu 2,51%,” jelas Emil Dardak.
Sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua secara nasional, pertumbuhan ekonomi Jatim Semester I-2026 berhasil menembus 5,84%. Angka ini membuat Jatim berkontribusi sebesar 14,34% ekonomi nasional.
Selain itu, keberhasilan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Timur mencapai Rp69,8 T atau setara 15,7% dari total KUR nasional.
“Program ini berhasil dimanfaatkan secara optimal oleh lebih dari 100.000 usaha mikro melalui kemudahan akses suku bunga rendah serta fleksibilitas persyaratan agunan,” lanjutnya.
Kesuksesan ini tidak lain dari pentingnya kebijakan Pemprov Jatim dalam pembiayaan untuk UMKM lewat Prokesra (Program Kredit Seiahtera). Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan global dan tekanan inflasi, Pemprov Jatim mengambil langkah responsif dengan menggeser strategi dari subsidi suku bunga konvensional menjadi pengelolaan Dana Bergulir (Dagulir).
“Jika kita mengandalkan subsidi suku bunga saat suku bunga acuan naik dari 3% ke 10%, maka beban APBD akan membengkak secara signifikan. Melalui skema Dana Bergulir dari Kas Daerah, kita dapat mempertahankan tingkat suku bunga pembiayaan yang sangat rendah, yakni sekitar 2%, secara konstan tanpa terpengaruh oleh fluktuasi suku bunga bank sentral,” jelas Emil.
Selain pembiayaan perbankan dan APBD, Wagub Emil secara khusus menyoroti potensi besar Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) sebagai instrumen pembiayaan sosial. Keseriusan Pemprov Jatim bahkan berbuah penghargaan langsung dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai Gubernur Pendukung Zakat Terbaik 2026.
“Zakat memiliki fleksibilitas yang luar biasa karena dana ini dihimpun atas dasar keikhlasan tanpa syarat komersial. Selama penggunaannya patuh pada ketentuan syariah,” ungkapnya.
Untuk itu, guna melipatgandakan dampak sosial, Pemprov Jatim mendorong penerapan skema pembiayaan campuran atau Blended Financing dengan mengombinasikan dana zakat dan pembiayaan perbankan.
Melalui integrasi ini, dana zakat berperan sebagai pembiayaan konsesional yang dapat menurunkan biaya dana (cost of fund) sekaligus menanggung risiko awal (de-risking) bagi wirausaha pemula (startup). Ketika usaha mikro tersebut telah tumbuh dan stabil, mereka dapat secara bertahap beralih ke mode pembiayaan bank mandiri.
“Jika kita bergerak sendiri-sendiri, porsi pembiayaan mungkin hanya mendanai 10 hingga 20 unit usaha. Namun dengan skema Blended Finance , efeknya bisa mencapai 60 hingga 80 unit usaha,” tambah Emil.
Di akhir, Wagub Emil juga menegaskan bahwa investasi berdampak bukan sekadar mencari profit, melainkan sarana menciptakan ruang bisnis yang adil dan berkelanjutan.
Pemprov Jatim berkomitmen agar investasi yang masuk senantiasa berpedoman pada standar lingkungan, mendorong pemerataan pembangunan di luar kawasan metropolitan, serta memberikan pemberdayaan yang inklusif bagi kaum perempuan dan penyandang disabilitas.
“Kami Pemprov Jatim sangat membuka lebar kesempatan kolaborasi dengan berbagai pihak. Silahkan untuk berkunjung ke Jawa Timur dan manfaatkam seluruh potensi dan kesempatan untuk membangun ekonomi yang lebih baik bagi kita semua,” pungkasnya. (ST02)


Tinggalkan Balasan