SURABAYATODAY.ID, SURABAYA –Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di seluruh puskesmas. Upaya ini dilakukan melalui pembenahan sistem antrean online, penyeragaman standar pelayanan, serta peningkatan kenyamanan fasilitas kesehatan bagi masyarakat.

Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Puskesmas Medokan Ayu, Selasa (13/10/2026). Sidak dilakukan menyusul keluhan warga mengenai perbedaan nomor antrean yang diperoleh melalui aplikasi e-Health dengan nomor antrean saat tiba di puskesmas.

“Jadi, ada laporan yang masuk melalui hotline saya mengenai seorang warga yang mendaftar melalui e-Health dan mendapatkan nomor antrean 20. Namun, ketika tiba di lokasi, nomornya berubah menjadi 78,” ujar Wali Kota Eri, Minggu (18/10/2026).

Dari hasil pengecekan, Wali Kota Eri menemukan adanya kekeliruan dalam penerapan mekanisme antrean, terutama bagi pasien yang datang terlambat. Menurutnya, sistem tersebut perlu diperbaiki agar memberikan kepastian dan kejelasan alur pelayanan kepada masyarakat.

“Setelah saya periksa, memang ada yang kurang tepat. Ada kekeliruan sistem di Puskesmas Medokan Ayu ini. Apa kekeliruannya? Ketika ada pasien baru yang datang terlambat, langsung diberikan nomor antrean baru. Padahal, seharusnya tidak seperti itu. Jika ada pasien yang terlambat, antreannya dilewati lima nomor terlebih dahulu, baru kemudian pasien tersebut diperiksa,” katanya.

Ia menegaskan, mekanisme antrean di seluruh puskesmas harus diseragamkan dengan sistem yang diterapkan di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie. Penyeragaman ini diharapkan dapat menciptakan alur pelayanan yang lebih tertib sekaligus mencegah kebingungan pasien.

“Jadi, sistem ini harus kita atur kembali agar sama dengan yang diterapkan di Rumah Sakit Soewandhie. Semua puskesmas harus memiliki standar pelayanan yang sama,” tegas Cak Eri, sapaan lekatnya.

Selain mengevaluasi sistem antrean, Cak Eri turut memeriksa kondisi bangunan dan ruangan di Puskesmas Medokan Ayu. Ia meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya memastikan pembenahan fasilitas kesehatan dilakukan secara menyeluruh.

“Saya tidak hanya memeriksa antreannya, tetapi juga melihat kondisi gedungnya. Karena itu, saya memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan agar pada 2027 seluruh puskesmas di Surabaya harus menjadi lebih baik,” pintanya.

Selain itu, perhatian juga diberikan terhadap kondisi ruang instalasi gawat darurat (IGD) puskesmas. Cak Eri menilai, pemilihan warna dan suasana ruangan perlu diperbaiki agar menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pasien.

“Saya melihat ruang IGD puskesmas. Warnanya seperti yang ada di film-film horor. Coba diganti dengan warna yang lebih menarik dan nyaman dipandang. Ini terkesan menyeramkan. Sebanyak 23 puskesmas rawat inap harus memiliki kondisi yang baik semuanya,” katanya.

Cak Eri pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kekurangan pelayanan yang masih ditemukan. Ia menegaskan, evaluasi dan pembenahan tidak hanya dilakukan di Puskesmas Medokan Ayu, tetapi juga menjadi perhatian bagi seluruh puskesmas di Kota Pahlawan.

“Insyaallah semua sistem pelayanan akan saya samakan dengan yang diterapkan di Rumah Sakit Soewandhie, Rumah Sakit BDH, dan Rumah Sakit Eka Candrarini,” tuturnya.

Menurut dia, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari upaya Pemkot Surabaya untuk memastikan seluruh masyarakat mendapatkan layanan yang layak. Ia ingin warga yang memperoleh pengobatan gratis tetap merasakan kualitas pelayanan yang baik.

“Saya ingin masyarakat kecil di Surabaya yang mendapatkan pengobatan gratis juga bisa memperoleh pelayanan seperti di rumah sakit dengan biaya pengobatan mahal,” ungkapnya.

Di sisi lain, Cak Eri turut mengapresiasi tenaga kesehatan (nakes) yang selama ini bekerja melayani masyarakat. Namun, ia menilai tingginya jumlah pasien harus diimbangi dengan manajemen pelayanan yang efektif agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara optimal.

“Saya menyampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan dan para kepala puskesmas bahwa manajemen harus mampu mengelola pelayanan dengan baik. Jika kekurangan tenaga, harus ditambah. Karena itu, yang saya tegur bukan tenaga kesehatannya, melainkan manajemennya,” jelasnya.

Oleh sebabnya, ia meminta seluruh nakes tetap bersemangat menjalankan tugas dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, ia turut meminta manajemen puskesmas memastikan sistem pelayanan berjalan baik sehingga tidak terjadi keterlambatan.

“Dengan demikian, masyarakat yang datang ke rumah sakit tidak justru bertambah sakit, tetapi bisa segera mendapatkan pelayanan yang membuat kondisi kesehatannya semakin baik,” pungkasnya. (ST01)