SURABAYATODAY.ID, SURABAYA -Prestasi membanggakan ditorehkan pelajar SMP Kota Surabaya dalam ajang Gala Siswa Indonesia (GSI) 2026. Tim sepak bola putra dan putri Surabaya sama-sama berhasil meraih juara pertama tingkat Jawa Timur dan kini masuk dalam tahapan seleksi pemain yang akan mewakili provinsi pada tingkat nasional.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan olahraga pelajar di Kota Pahlawan terus berjalan dan mampu melahirkan talenta muda berprestasi.
“Prestasi ini tentu menjadi kebanggaan bagi Surabaya. Anak-anak telah melewati proses yang panjang, mulai dari seleksi hingga pertandingan di tingkat provinsi. Ini menunjukkan bahwa potensi atlet muda Surabaya terus tumbuh dan perlu mendapatkan ruang untuk berkembang,” kata Febri, Selasa (15/9/2026).
GSI merupakan ajang olahraga jenjang SMP yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kompetisi sepak bola GSI mempertandingkan kategori putra dan putri dengan tahapan seleksi berjenjang dari tingkat kecamatan, kota, provinsi hingga nasional.
“Di Surabaya, penjaringan pemain dimulai dari tingkat kecamatan pada Juli 2026. Peserta berasal dari SMP negeri maupun swasta. Pemain terbaik dari masing-masing kecamatan kemudian mengikuti seleksi tingkat kota pada Agustus sebelum ditetapkan menjadi wakil Surabaya di tingkat provinsi,” jelasnya.
Tahapan tersebut kemudian berlanjut ke tingkat Jawa Timur. Di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, tim GSI sepak bola putra dan putri Surabaya berlaga pada kompetisi tingkat provinsi yang digelar 31 Agustus hingga 4 September 2026 di Lapangan PUSDIK ARHANUD TNI-AD, Kota Batu.
Hasilnya, kedua tim Surabaya tampil sebagai juara pertama. Prestasi tersebut menjadi capaian istimewa karena tim putra berhasil mempertahankan gelar juara selama dua tahun berturut-turut, sedangkan tim putri langsung menjadi juara pada keikutsertaan perdananya.
Tim putri Surabaya meraih gelar juara setelah bersaing dengan tim dari kabupaten/kota lain, termasuk mengalahkan Sidoarjo di partai penentuan. Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan sepak bola pelajar putri mulai mendapatkan hasil positif.
“Yang paling membanggakan, putra dan putri sama-sama bisa menjadi juara. Untuk tim putri, ini merupakan pengalaman pertama mengikuti GSI, tetapi mereka mampu menunjukkan kemampuan dan mental bertanding yang baik,” ujarnya.
Febri mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari proses seleksi yang dilakukan secara kompetitif. Berbeda dengan sistem penunjukan pemain yang diterapkan di sejumlah daerah, Surabaya memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk menunjukkan kemampuan mereka melalui pertandingan.
“Proses tersebut membuat pemain yang terpilih benar-benar melewati tahapan kompetisi sebelum dipercaya menjadi bagian dari tim Surabaya. Pemantauan kemampuan juga dilakukan berdasarkan posisi dan karakter permainan, mulai dari penjaga gawang, gelandang hingga penyerang,” terangnya.
Pembinaan turut melibatkan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP, serta Surabaya Legend. Para mantan pemain Persebaya yang tergabung dalam Surabaya Legend ikut mendampingi proses pemantauan dan pengembangan bakat pemain.
“Yang kami dorong bukan hanya hasil pertandingan, tetapi juga proses pembinaan. Anak-anak mendapatkan pengalaman bertanding, belajar disiplin, bekerja sama dalam tim, sekaligus mengembangkan kemampuan mereka,” tuturnya.
Menjelang kompetisi tingkat provinsi, para pemain menjalani pemusatan latihan selama kurang lebih dua pekan. Latihan rutin tersebut dilengkapi dengan pertandingan persahabatan melawan sejumlah klub di Surabaya untuk mengukur kesiapan dan perkembangan kemampuan pemain.
“Dari proses tersebut, dua tim Surabaya akhirnya mampu membawa pulang gelar juara tingkat Jawa Timur. Namun, perjalanan mereka belum selesai. Para pemain terbaik masih harus melalui proses seleksi untuk menentukan skuad Jawa Timur yang akan berlaga di tingkat nasional,” ungkapnya.
Sebagai juara pertama, Surabaya mendapat peluang mengisi sekitar 70 persen komposisi pemain untuk skuad Jawa Timur. Dari total 20 pemain yang akan dipilih, sekitar 14 pemain diperkirakan berasal dari Surabaya, baik untuk tim putra maupun putri.
Penentuan pemain tersebut dilakukan melalui seleksi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan keterangan tim pendamping, proses penentuan pemain dijadwalkan berlangsung pada 15 September 2026.
“Setelah ini masih ada proses seleksi lagi untuk menentukan siapa saja yang akan mewakili Jawa Timur. Jadi, anak-anak tetap harus menunjukkan kemampuan terbaiknya,” kata dia.
Bagi Dispendik Surabaya, keberhasilan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan olahraga sejak usia sekolah. Tidak hanya mengejar prestasi, pembinaan dilakukan untuk membuka kesempatan bagi pelajar mengembangkan potensi sekaligus memperoleh pengalaman kompetisi di jenjang yang lebih tinggi.
“Kami berharap pengalaman di GSI ini menjadi bekal bagi anak-anak untuk terus berkembang. Semoga ada yang terpilih mewakili Jawa Timur dan bisa melanjutkan perjuangan hingga tingkat nasional,” pungkasnya.
Sebagai informasi, komposisi tim yang dikirim ke tingkat provinsi juga menunjukkan keterlibatan sekolah yang cukup luas. Tim putra diperkuat 20 pemain dari berbagai SMP negeri dan swasta di Surabaya. Mereka adalah Ifan Kurnia Yulianto dari SMP Wachid Hasyim 1, Muhammad Rizky Al Bani Azwan Luthan dari SMP Taman Pelajar, Bryan Azka Alexis Latief dari SMPN 60, Rizki Ghaniy Iryanto dan Messi Haikal Agung Ibrahim dari SMPN 21, Muhammad Dhana Darmawan dari SMPN 41, Muhammad Fachri Al Anshofi dari SMPN 50, Muhammad Fariz Djias Syahputra dari SMPN 44 Surabaya.
Selanjutnya, Ricardo Ade Maulana dari SMPN 28, Muhammad Kenzou Armando dari SMPN 40, Chale Moussa dari SMPN 13, Muhammad Azmi Azhar dari SMPN 14, Muhammad Raihan ZdulqarnaIn dari SMPN 25, Danu Arya Ibrakirta dari SMPN 18, Fallah Alfiansyah Putra Darmawan dari SMPN 20, Mochammad Ridho Susanto dari SMPN 30, M. Darrel Kennard Kalani Defianto dari SMPN 33, Carlo Prawira Yudha Hartanto dari SMPN 3, M Fhatoni Ferdiansyah dari SMPN 15, serta Nizam Arya As’ari, dari SMPN 20 Surabaya.
Sementara itu, tim putri juga diperkuat 18 pemain dari sejumlah SMP negeri dan swasta. Mereka terdiri atas Deby Ria Handini dari SMPN 46, Naswa Khoirunnisa Az-Zahra dari SMPN 33, Anindita Keisha Zahra dari SMPN 5, Alethia Cherryl Chavaly dari SMPN 3, Aura Zenneta dan Grace Febiona dari SMPN 58, Angel Aura Nafiza Azzara dari SMPN 47 Surabaya, Aprillia Andry Susanti dari SMPN 37 Surabaya.
Kemudian, Thalita Zalfa Aprilla dari SMPN 1, Nadine Faranissa Sugianto dari SMPN 46, Khinar Fatimah Azzahra dari SMPN 58, Salsabil Azharah Afroz dari SMPN 19, Nasywa Nathania dari SMPN 48, Kinanthi Martha Syakilla dari SMP Taman Pelajar, Aprilia Putri dari SMP Hidayatul Ummah, Maulidya Bonita Saputri dari SMPN 3, Kamila Nuril Laili dari SMP PGRI 1 Surabaya, serta Widya Asmara dari SMPN 46 Surabaya. (ST01)


Tinggalkan Balasan