SURABAYATODAY.ID, SURABAYA –Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi. Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi mitigasi, penguatan pemahaman kebencanaan, serta kesiapan sarana pendukung seperti jalur evakuasi dan titik kumpul di lingkungan masyarakat.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Surabaya, Yanu Mardianto, mengatakan masyarakat tidak perlu panik menyikapi informasi mengenai sesar aktif maupun potensi gempa. Menurutnya, informasi kebencanaan perlu dipahami secara utuh agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan sekaligus mengetahui langkah yang harus dilakukan apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.

“Potensi itu memang ada, tetapi bukan berarti kita dapat memastikan kapan gempa akan terjadi. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya gempa,” kata Yanu, Jumat (11/9/2026).

Ia menjelaskan, BPBD Surabaya telah melakukan koordinasi dan konfirmasi terkait informasi mengenai keberadaan patahan atau sesar di wilayah Surabaya. Berdasarkan kajian yang ada, terdapat sejumlah indikasi sesar yang teridentifikasi melalui pemetaan dengan pendekatan dan skala yang berbeda.

Perbedaan hasil pemetaan tersebut, kata Yanu, merupakan bagian dari proses kajian kebencanaan. Karena itu, informasi mengenai jumlah maupun keberadaan sesar perlu dipahami sesuai konteks kajian dan tidak serta-merta dimaknai sebagai tanda akan terjadinya gempa dalam waktu dekat.

“Data kebencanaan perlu kita lihat berdasarkan metode dan skala pemetaannya. Yang terpenting bagi masyarakat bukan memperdebatkan jumlahnya, tetapi memahami bahwa ada potensi risiko yang perlu diantisipasi bersama,” jelasnya.

Yanu menegaskan, kesiapsiagaan menjadi langkah utama yang dapat dilakukan pemerintah dan masyarakat. BPBD Surabaya secara rutin memberikan sosialisasi mengenai mitigasi bencana, termasuk bagaimana masyarakat mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, serta memahami tindakan penyelamatan diri ketika terjadi gempa.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat siap. Kami melakukan sosialisasi mitigasi, termasuk bagaimana mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, serta memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa,” ujarnya.

Menurut Yanu, edukasi kebencanaan juga diarahkan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat ketika menghadapi situasi darurat. Kesiapan tersebut perlu dibangun mulai dari lingkungan keluarga hingga tingkat kampung dan kelurahan.

“Selain kesiapan masyarakat, BPBD juga terus mendorong penguatan mitigasi melalui lingkungan yang lebih tangguh terhadap bencana. Pengetahuan mengenai risiko, jalur evakuasi, titik kumpul, hingga langkah penyelamatan menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan tersebut,” paparnya.

Yanu juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi mengenai gempa yang beredar di media sosial. Informasi terkait kebencanaan sebaiknya diperoleh dari sumber resmi dan kredibel, sehingga masyarakat tidak mendapatkan informasi yang justru menimbulkan kekhawatiran.

“Jadi bukan panik, tetapi waspada dan siap. Kalau masyarakat sudah memahami apa yang harus dilakukan, ketika terjadi gempa mereka tidak lagi bingung menentukan langkah penyelamatan,” katanya.

Ia menambahkan, Indonesia berada di kawasan dengan aktivitas tektonik yang tinggi sehingga kesiapsiagaan perlu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, kondisi tersebut tidak perlu disikapi dengan kecemasan berlebihan.

“Mitigasi itu harus dilakukan sebelum bencana terjadi. Masyarakat perlu tahu risikonya, tahu jalur evakuasinya, tahu titik kumpulnya, dan tahu bagaimana menyelamatkan diri. Dengan begitu, ketika terjadi keadaan darurat, kita sudah lebih siap,” pungkasnya. (ST01)