SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Komisi D DPRD Kota Surabaya menyatakan dukungan penuh terhadap langkah manajemen RSUD dr. Mohamad Soewandhie yang berencana memperluas layanan untuk pasien umum non-BPJS. Upaya ini dinilai sebagai strategi tepat untuk meningkatkan pendapatan rumah sakit milik Pemerintah Kota Surabaya tersebut.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya Johari Mustawan, mengatakan bahwa RSUD dr. Soewandhie saat ini tengah berbenah untuk memperkuat pangsa pasar di segmen pasien umum.
“Kami mendukung langkah ini karena bertujuan untuk meningkatkan pendapatan rumah sakit daerah,” ujar Johari.
Menurut Johari, kinerja keuangan RSUD dr. Soewandhie hingga September 2025 tergolong sangat baik. Ia mencatat, pendapatan dari pasien umum telah mencapai Rp 11,7 miliar atau 111 persen dari target Rp 10 miliar, sementara pendapatan dari pasien non-umum, yakni yang dicover pemerintah, mencapai Rp 280 miliar atau 72 persen dari target.
“Capaian 72 persen ini masih berpotensi tembus 100 persen karena masih ada waktu tiga bulan hingga akhir tahun,” ujarnya optimistis.
Johari menambahkan, pihak RSUD dr. Soewandhie menargetkan kenaikan pendapatan signifikan dari pasien umum pada tahun depan. Target pendapatan yang semula Rp 10 miliar pada 2025 (hasil PAK) akan meningkat menjadi Rp 23,3 miliar di tahun 2026, atau naik lebih dari 100 persen.
Lebih lanjut, Johari—yang akrab disapa Bang Jo—menilai perlu adanya peningkatan fasilitas pendukung agar masyarakat semakin tertarik menggunakan layanan umum di RSUD dr. Soewandhie.
“Akses menuju rumah sakit harus mudah dijangkau, dan lahan parkir juga perlu diperhatikan. Kalau sulit menambah lahan baru, bisa bekerja sama dengan BPKAD untuk memanfaatkan aset Pemkot di sekitar rumah sakit,” jelasnya.
Sebagai contoh, Bang Jo menyoroti Kapas Krampung Plaza (Kaza) yang sebagian bangunannya dijadikan hotel. Ia menilai, lokasi tersebut bisa dijadikan area parkir tambahan dengan membangun jembatan penghubung antara Kaza dan RSUD dr. Soewandhie, sehingga lebih memudahkan pasien maupun keluarga yang berkunjung.
Selain itu, Komisi D juga mendukung rencana rumah sakit untuk menambah tenaga dokter spesialis dan subspesialis. Dengan penambahan tersebut, RSUD dr. Soewandhie diharapkan mampu menjadi alternatif layanan bagi pasien yang selama ini menumpuk di RSUD dr. Soetomo.
“Misalnya, antrian pasien tumor otak di dr. Soetomo bisa mencapai 500 orang. Kalau Soewandhie menambah tenaga spesialis dan fasilitas, bisa membantu mengurai antrian dan memperluas pasar pasien,” terang Bang Jo.
Ia juga mendorong penambahan tempat tidur untuk layanan hemodialisa serta peningkatan fasilitas medical check-up agar RSUD dr. Soewandhie semakin kompetitif di tengah persaingan layanan kesehatan di Surabaya.
“Kalau layanan dan fasilitasnya lengkap, masyarakat tentu akan makin percaya dan memilih RSUD dr. Soewandhie,” pungkasnya. (ADV-ST01)






