SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Surabaya, Lasidi, memaparkan serangkaian strategi inovatif untuk memperkuat pelayanan perizinan dan meningkatkan investasi di Kota Pahlawan. Paparan tersebut ia sampaikan dalam fit and proper test pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPT) yang digelar melalui mekanisme manajemen talenta di Ruang Sidang Wali Kota, Balai Kota Surabaya, Senin (1/12/2025).
Lasidi menjadi salah satu peserta seleksi untuk posisi Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya. Dalam forum tersebut, ia mengusung proposal berjudul “Melaksanakan Pelayanan Prima Dengan Cerdas dan Ikhlas Bagi Publik” yang merangkum gagasannya mengenai transformasi pelayanan dan investasi.
Di awal paparannya, Lasidi menjelaskan tugas pokok DPM-PTSP yang mencakup pelayanan perizinan berusaha, non-berusaha, non-perizinan, hingga fasilitasi peningkatan investasi. Saat ini, Surabaya mengelola 1.428 jenis perizinan yang seluruhnya terpusat melalui Mal Pelayanan Publik (MPP) dan Sentra Pelayanan Publik (SPP) di berbagai wilayah.
“Banyak masyarakat masih belum memahami apa itu DPM-PTSP. Bahkan ada yang mengira penanaman modal itu seperti menabung di bank,” ujar Lasidi sambil mencontohkan rendahnya pemahaman publik terhadap layanan perizinan.
Dirinya juga menyoroti potensi keterlambatan proses perizinan, belum adanya sistem penapisan izin, hingga fasilitas pelayanan disabilitas yang perlu diperkuat.
Dengan berbagai inovasi yang telah dijalankan seperti Klinik Investasi, Klinik Wani Ngurus Izin, aplikasi SiPintar berbasis AI, hingga diraihnya predikat Pelayanan Investasi Terbaik Nomor 1 se-Indonesia, Surabaya mencatat capaian investasi signifikan.
Target investasi tahun 2024 Rp 40 triliun telah tercapai. Sementara target 2025 Rp 42,69 triliun, saat ini telah menyentuh Rp 31,3 triliun hingga triwulan ketiga.
“Masih kurang Rp 11 triliun. Artinya, kita butuh inovasi untuk mengejar target tersebut,” kata Lasidi.
Untuk menjawab tantangan dan mendorong pencapaian target investasi, Lasidi menawarkan empat misi strategis: Ia mengusulkan perluasan program Pesona Buaya ke tingkat kelurahan hingga kecamatan, penguatan layanan konsultasi daring, serta penerapan sistem penapisan perizinan berbasis aplikasi. Ia juga memperkenalkan Siwastip, aplikasi pemantau izin otomatis melalui OSS.
“Tiap OPD pengawas bisa langsung mengetahui perizinan yang terbit, karena mendapat akses login dan bisa menindaklanjuti secara cepat,” ujarnya.


Menurutnya, ekspektasi masyarakat kini semakin tinggi. Karena itu, fasilitas MPP, aksesibilitas penyandang disabilitas, hingga layanan drive-thru perlu terus ditingkatkan dan dievaluasi.
Ia menegaskan pentingnya penyediaan data perizinan real-time, layanan call center siaga perizinan, serta pengembangan lanjutan aplikasi SiPintar.
“Ke depannya SiPintar bisa berbasis suara. Misalnya, ketika bertanya syarat PBG, sistem langsung menjawab otomatis,” paparnya.
Beberapa strategi yang disiapkan yaitu penyusunan roadmap investasi, optimalisasi Tim Percepatan Investasi, kolaborasi akademisi–pengusaha, serta penguatan promosi melalui agenda seperti investment week, evening tea, hingga platform AIPRO.
Ia menekankan pentingnya investasi yang berdampak nyata serta pemantauan LKPM secara berkelanjutan.
Dengan seluruh strategi tersebut, Lasidi menargetkan seluruh pengurusan izin dapat selesai tepat waktu dan kepuasan masyarakat terus meningkat.
“Nilai SKM diharapkan naik menjadi 98,4 dari sebelumnya 98,2. Sementara untuk investasi, target 2025 sebesar Rp42,69 triliun dan prediksi 2026 sebesar Rp43,34 triliun,” tegasnya. (ST01)





