SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) terus menguatkan komitmen untuk melestarikan budaya lokal, khususnya Bahasa Jawa krama inggil, di lingkungan sekolah. Program ini mendapat dukungan dari Komisi D DPRD Kota Surabaya. Anggota Komisi D, Abdul Malik
Salah satu terobosan yang diluncurkan adalah program ‘Kamis Mlipis’.Di hari tersebut para siswa dan guru di Surabaya diwajibkan menggunakan Bahasa Jawa dalam aktivitas belajar-mengajar.
Abdul Malik menilai langkah Dispendik sejalan dengan Permendikbud nomor 50 Tahun 2022 tentang pakaian seragam sekolah bagi peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah. “Supaya program ini semakin selaras dengan semangat pelestarian budaya, kami mendorong adanya fasilitas seragam baju adat khas daerah Surabaya yang digunakan setiap Kamis,” kata Abdul Malik.
Ia mengungkapkan, usulan penggunaan baju adat tersebut telah disampaikan langsung kepada Dispendik Surabaya untuk dipelajari dan dianalisis. “Kalau anggarannya memungkinkan, Komisi D berharap ini bisa segera direalisasikan,” jelasnya.
Abdul Malik juga memberikan saran agar pengadaan baju adat melibatkan pelaku UMKM lokal, khususnya para penjahit di Surabaya. Berdasarkan data yang ia miliki, terdapat sekitar 75 pelaku UMKM di berbagai sektor dan 304 UMKM penjahit di kota ini.
“Perlu dilihat, bagaimana perkembangan terakhir mereka, apakah penghasilannya sudah memadai. Kalau dilibatkan dalam penyediaan seragam baju adat, ini bisa sekaligus menjadi stimulus ekonomi bagi mereka,” ujarnya.
Politisi ini menekankan bahwa sinergi antara program pendidikan dan pemberdayaan ekonomi lokal akan memberi manfaat ganda: menjaga tradisi sekaligus menggerakkan roda perekonomian warga.
Sementara itu, Kepala Dispendik Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menjelaskan bahwa materi krama inggil akan diintegrasikan langsung ke dalam Modul Ajar Bahasa Jawa yang digunakan di sekolah. Ia optimistis program ini akan efektif dalam menghidupkan kembali penggunaan Bahasa Jawa di kalangan pelajar.
“Kami percaya, lewat inisiatif ‘Kamis Mlipis’ dan dukungan semua pihak, revitalisasi Bahasa Jawa di Surabaya bisa berjalan sukses,” tegas Yusuf. (ADV-ST01)





