SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Ada yang unik dalam purnasiswa kelas IX angkatan ke-14 di SMP Kreatif Muhammadiyah 18 Surabaya, Sabtu (8/6) lalu. Pada kegiatan itu dikemas sangat beda. Selain para siswa menggunakan pakaian adat Jawa, prosesi purnasiswa pun diiringi tradisi cucuk lampah, yakni pembuka dan penuntun jalan yang biasanya dilakukan pada rangkaian prosesi pernikahan beradat Jawa untuk mengantar pengantin ke pelaminan.
Kegiatan purnasiswa ini memang mengusung tema pernikahan adat Jawa. Pada momen yang digelar di lingkungan e-School (julukan sekolah SMP Kreatif Muhammadiyah 18 Surabaya), seluruh peserta dan panitia mengenakan busana beskap dan kebaya. Bahkan, mulai dari pintu masuk berhiaskan daun kelapa hijau dan kain jarik. Dekorasi panggung pun berlatar gebyok, mirip panggung pelaminan.
Salah satu guru di sekolah ini, Fadhlurrohman, mengungkapkan konsep purnasiswa ini memang dibuat berbeda. Pihaknya ingin momen tersebut mengesankan bagi para siswa.
Makanya, selain konsep perkawinan juga disertakan cucuk lampah. “Bukan sekolah kreatif namanya, kalau tidak ada suguhan berbeda pada purnasiswa dari tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Menurutnya, cucuk lampah hanya ada saat pernikahan. “Namun supaya berbeda dan diingat, maka kita tampilkan saat kelulusan sehingga jadi berkesan,” terangnya.


Saat pra-acara purnasiswa, di sinilah tradisi cucuk lampah dimulai. Seorang siswa bergaya anoman menuntun rombongan kelas IX menuju tempat duduk dengan iringan gending Jawa ‘Kebo Giro’ yang biasanya digunakan dalam pernikahan adat Jawa. Perjalanan rombongan ini juga diapit oleh pasukan pembawa bendera.
Kepala SMP Kreatif Ari Sutikno dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terlaksananya purnasiswa tahun ini. “Ngapunten (mohon maaf, red) saya memakai dua bahasa, karena hari ini temanya adalah adat pernikahan adat Jawa. Acara hari ini sungguh luar biasa,” katanya
Ia memberikan apresiasi atas semua pihak yang terlibat dalam terselenggaranya kegiatan ini. Dikatakan, pihaknya sebagai guru hanya mendampingi dan membimbing.
“Karena di sekolah, kami adalah sahabat sekaligus orang tua bagi anak-anak. Mugi-mugi (semoga, red), lelah kita semuanya menjadi lillah karena Allah SWT,” tambah Ari.
Ari lantas menyampaikan pesan kepada para siswa yang lulus dari e-School. “Hari ini bukanlah hari terakhir, hanya seremonial. Kalau ada perlu atau rindu, jangan sungkan datang ke sekolah,” tutupnya. (ST01)





