SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Pemkot Surabaya menyambut dengan hangat kedatangan tim penilai verifikasi lapangan sentra pangan jajanan dan kantin dari Kementerian Kesehatan RI, Selasa (20/9). Penyambutan rombongan ini dilakukan Asisten Administrasi Umum Febria Rachmanita.
“Selamat datang dan selamat bertugas di Kota Surabaya. Semoga kerasan berada di Surabaya selama 3 hari ke depan,” kata Febria Rachmanita.
Ia juga bersyukur karena Pemkot Surabaya mengajukan empat lokasi dalam kompetisi ini, dan dokumen empat lokasi itu semuanya lolos penilaian dokumentasi. Adapun empat lokasi itu adalah Kantin Pusat ITS Surabaya, SWK Convention Hall Surabaya, Kantin SMPN 42 Surabaya, dan SWK Jambangan Surabaya.
“Alhamdulillah keempatnya lolos penilaian dokumen, dan sekarang tinggal diverifikasi lapangan untuk mengecek kesesuaian antara dokumen yang disetorkan dengan kondisi di lapangan,” katanya.
Menurut Feny, sapaan akrab Febria Rachmanita, keempat lokasi yang lolos penilaian dokumen itu memiliki karakter dan ciri khas masing-masing. Salah satu yang sangat menarik adalah di Kantin SMPN 42 Surabaya. Di sekolah tersebut, ada yang namanya KatePay, sebuah program Wali Kota Eri yang mana bayar di kantin sekolah cukup dengan kartu KatePay, bukan uang tunai.
“Di sekolah itu sudah lama pakai KatePay, sehingga anak-anak jajan di kantin sudah pakai kartu, dan KatePay ini dikelola oleh orang tua siswa,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Penyehatan Pangan Direktorat Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tutut Indra W mengatakan bahwa kedatangannya ke Surabaya dalam rangka verifikasi lapangan demi mengecek kesesuaian antara di dokumen yang sudah masuk dengan kondisi di lapangan. Penilaian ini untuk kompetisi Sentra Pangan Jajanan dan Kantin Sehat.
“Surabaya ini mengusulkan 4 lokasi, dan keempatnya itu lolos penilaian dokumen semuanya. Makanya, hari ini kita akan verifikasi kebenaran dokumen tersebut, jangan sampai hanya di foto-fotonya yang bagus,” kata Tutut.
Adapun yang akan dinilai adalah higiene sanitasi dan kebersihannya, fasilitas sanitasinya, pelaku penjamahnya apakah menggunakan clemek atau tidak, dan yang paling penting dukungan dari pemkot, mulai dari pembinaannya dan pengawasannya.
“Termasuk pula hasil pemeriksaan laboratoriumnya, apakah ada bakteri atau tidak, sehingga nanti ada bukti lab-nya juga. Dan yang paling penting adalah inovasinya dan nilai value-nya. Mungkin salah satu inovasi yang ada di Surabaya, tapi tidak ada di tempat lainnya di Indonesia ini,” pungkasnya. (ST01)





