SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Makin banyak kampung ikonik di Surabaya. Kali ini, di Kota Pahlawan ini ketambahan Kampung Ceria dan Kampung Batik Tin Gundih.
Kampung ini berada di Jalan Sumber Mulyo IV, Kelurahan Gundih, Bubutan. Kampung tersebut diresmikan oleh Wali Kota Eri Cahyadi, Jumat (24/6) malam.
Eri Cahyadi mengatakan kampung ini sudah digagas dalam program cangkrukan pada tahun 2021. Dia meminta camat dan lurah agar dapat menghidupkan masing-masing wilayahnya. Segala persoalan pun dirembuk saat cangkrukan, tak terkecuali konsep pengembangan kampung.
“Jadi kalau kita mau tanya, sebenarnya kampung ini konsepnya siapa? Ini adalah konsep kebersamaan, konsep yang dari gotong-royong pertemuan musyawarah mufakat,” katanya.
Ia melihat Kampung Ceria dan Batik Tin Gundih luar biasa. Bagaimana konsep penataan di RW IV Kelurahan Gundih ini membuat nyaman masyarakatnya. Ada gazebo untuk cangkrukan, bahkan dilengkapi sejumlah fasilitas permainan tradisional anak.
“Ini yang membuat saya bangga. Karena apa? anak-anak hari ini di Surabaya sebagai penerus bangsa harus bisa bersosialisasi, bertemu satu dengan lainnya untuk berkomunikasi. Tapi kalau kebiasaan bermain gadget, itu orang akan menjadi individualistis dan kapitalis,” jelasnya.
Bagi Eri, Surabaya tidak bisa dijadikan sebagai kota kapitalis. Sebab, Surabaya dibangun dengan gotong-royong dan kebersamaan.
Karenanya, Eri juga menginginkan agar Kampung Ceria dan Batik Tin Gundih Surabaya menjadi destinasi wisata. Untuk memperkuat ikon wisata di kampung ini, pihaknya bakal melengkapinya dengan lampion-lampion di sepanjang sungai di kampung tersebut.
“Sehingga ini akan menjadi kampung yang nyaman, ramah anak. Sehingga anak semakin nyaman untuk bertemu, bersosialisasi dengan teman-temannya,” harapnya.
Dalam upaya pemberdayaan ekonomi, Eri juga mengapresiasi terbentuknya Kampung Batik Tin Gundih. Dengan kampung batik itu bakal mampu menggerakkan ekonomi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Meski belum lama terbentuk, Kampung Batik Tin Gundih telah menerima pesanan dengan nilai hingga Rp 23 juta. “Saya yakin, kalau semua kampung seperti ini, maka Surabaya quantum lompatannya akan sangat bagus ketika menyelesaikan kemiskinan di Surabaya,” imbuhnya.
Setidaknya, sekarang ini ada 25 warga yang terlibat dalam produksi pembuatan Batik Tin Gundih. Mereka terdiri dari 16 MBR dan 9 warga non-MBR. Sebelumnya mereka pun telah mendapatkan sejumlah pelatihan keterampilan membatik dari Kelurahan Gundih.


Di sisi lain, Camat Bubutan Kota Surabaya, Kartika Indrayana menyampaikan, Kampung Ceria dan Batik Tin Gundih merupakan wujud keberhasilan program cangkruan. Berawal dari diskusi bersama saat cangkrukan itu, akhirnya terbentuk dua konsep kampung tersebut.
“Saat cangkrukan itu, kita diskusi dengan Bu Lurah, Pak RW dan warga untuk membentuk kampung seperti ini,” kata Kartika.
Menurutnya, konsep yang diusung Kampung Ceria adalah kegotongroyongan dan swadaya masyarakat. Bagaimana masyarakat bergotong royong menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat bagi seluruh warga, tak terkecuali anak-anak.
“Kita melestarikan permainan-permainan tradisional anak. Ada juga tanaman-tanaman toga, musik dan batik utamanya,” ujar Kartika.
Dia menjelaskan, bahwa Kampung Batik Tin Gundih telah menjadi icon baru batik di RW IV Kelurahan Gundih. Maskot Batik Tin Gundih yang diusung berawal dari penanaman Pohon Tin atau Ara yang dilakukan warga setelah diskusi bersama.
“Makanya kita kasih brandnya Kampung Batik Tin Gundih,” jelas dia. (ST01)





