SURABAYATODAY.ID, TUBAN – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa didampingi Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky dan rombongan meninjau lokasi kecelakaan perahu penyeberangan yang juga dekat dengan lokasi pembangunan jembatan Kanor Rengel yang menghubungkan Kabupaten Tuban dan Bojonegoro.
Berdasarkan data di Posko Laka per 5 November 2021 tercatat 4 orang korban dinyatakan meninggal dunia. Mereka adalah Agus Tutin (28) berjenis kelamin laki-laki asal Ngandong Grabagan Tuban, kemudian Kasian (65) jenis kelamin laki-laki asal Semambung Kanor Bojonegoro, Toro (40) jenis kelamin laki-laki asal Rembang Jawa Tengah dan 1 orang yang ditemukan pagi ini belum teridentifikasi.
Kemudian 10 korban dinyatakan selamat. Dari 10 orang korban selamat terdapat 7 orang berasal dari Kabupaten Tuban antara lain Arif Dwi S (39), Novi Andi S (29), Tasmiatun N (33), Abdul Hadi (9), Abdulah Dyantim (3), Mastarmuji (56), dan Budi A (24). Lalu 2 orang korban berasal dari Kab. Bojonegoro atas nama Hafis (5) dan Madyani (62) dan 1 orang dari Rembang Jawa Tengah atas nama Mujianto (30).
Sedangkan 5 orang masih dalam pencarian. Dalam proses pencarian ini menggunakan 10 unit perahu karet, 3 unit perahu fiber, dan melibatkan 379 personil dari berbagai instansi. Di antaranya BPBD Tuban, BPBD Jatim, BPBD Lamongan, Polres, Kodim, BASARNAS, PMI, Dinas Perhubungan setempat dan beberapa instansi lainnya.
Khofifah menekankan pentingnya keselamatan penumpang pada pengguna transportasi penyeberangan sungai dan danau. Ia menjelaskan bahwa Peraturan Menteri Perhubungan No. 61 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau telah menjelaskan berbagai atauran terkait dengan penyelenggaraan angkutan penyeberangan sungai dan danau. Termasuk bagaimana standar pelayanan minimal angkutan sungai dan danau.
“Sesungguhnya kejadian ini juga menjadi referensi kepada kita semua terkait dengan regulasi angkutan sungai danau dan penyeberangan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa di Jawa Timur banyak layanan angkutan sungai atau danau yang perlu mendapat perhatian dari pihak pemerintah. Sebab banyak masyarakat yang menggunakan akses tersebut sebagai alternatif pilihan untuk mempercepat perjalanan menuju daerah tujuan sementara standart keamanannya belum maksimal.
Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menambahkan selain kejelasan trayek, standar kalaikan angkutan, dan sertifikasinya nakhoda. Selain itu juga ada keamanan bagi pengguna sarana transportasi penyeberangan sungai dan danau yang harus benar-benar diperhatikan.
Karena itu ia meminta pihak terkait, dalam hal ini kepala daerah, Dinas Perhubungan Pemprov dan Kabupaten Kota untuk segera merapikan regulasinya. “Saya koordinasi dengan Dishub bagaimana kita memastikan karena untuk sertifikasi nakhoda dan untuk kelaikan dari armada itu dari kewenangan pusat, sementara trayek antar kabupaten kota oleh Dishub Provinsi dan trayek intern kabupaten – kota oleh dishub kabupaten/kota.
“Mengingat transportasi sungai di Jawa Timur sifatnya penyeberangan jarak pendek dan tidak komersial maka semua regulasi harus dijamin gratis dan cepat,” jelasnya.
Hal ini dilakukan juga sebagai upaya memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna layanan transportasi penyeberangan sungai dan danau.
Khofifah juga mengungkapkan sebetulnya Pemerintah Kabupaten Tuban dan Bojonegoro saat ini sedang membangun jembatan sebagai percepatan akses dan mobilitas masyarakat dari Tuban ke Bojonegoro atau sebaliknya. Saat ini jembatan Kanor – Rengel ini sedang dalam proses pengerjaan.
Ia pun berharap akhir tahun ini jembatan tersebut bisa rampung pengerjaannya dan segera bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Sebetulnya penandatanganan jembatan ini saya ikut menjadi saksi waktu itu antara antara wakil bupati Tuban dan Bupati Bojonegoro, Gubernur menjadi saksi,”ungkapnya.
“Mudah-mudahan seperti penjelasan Pak Bupati Tuban, Insya Allah akhir tahun ini sudah selesai sehingga akses bagi mobilitas masyarakat dari Rengel ke Kanor atau Tuban dan Bojonegoro bisa lebih mudah lebih aman lebih nyaman,” harapnya. (ST02)





