SURABAYATODAY.ID, SURABAYA – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKKP) Surabaya terus memanfaatkan lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) untuk memperkuat ketahanan pangan di masa pandemi Covid-19. Di Surabaya, ada sebanyak 18 lahan BTKD yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman pangan.
Kepala DKPP Surabaya Yuniarto Herlambang menyatakan sebanyak 18 lahan BTKD yang tersebar di berbagai titik di seluruh Surabaya sudah ditanami berbagai tanaman pangan. Adapun 18 lahan BTKD itu adalah BTKD Jambangan, Kelurahan Sumber Rejo, Sambikerep, Lakarsantri, Kelurahan Jeruk RW 03, Persil 12 RW 13 Kelurahan Kebraon, Rusun Warugunung, Kecamatan Wonocolo, Tambak Wedi, dan Bangkingan.
Selain itu ada pula di Kutisari Indah Utara, Kutisari Indah Utara VIII Dekat Pasar, Pakal Jalan Kauman, Taman Balas Klumprik, Wonocolo 2, Medokan Asri, Wonocolo 3 dan Medayu Kosaghra Rungkut.
“Tanaman pangan yang kami tanam di antaranya ubi kayu, talas, ubi jalar, pisang, padi, jagung manis, sorgum, jagung bisi dan berbagai tanaman lainnya,” kata Herlambang, Senin (30/8).
Menurut dia, saat membuka lahan BTKD itu, DKPP melibatkan lurah, camat, LPMK dan masyarakat. Bahkan, ketika melakukan penanaman pihaknya juga melibatkan masyarakat. Sehingga perlahan mereka banyak yang tertarik untuk mengelola lahan BTKD itu.
“Makanya, beberapa lahan BTKD milik pemkot yang mengelola adalah warga. Benih dan pupuknya dari kita, tapi yang mengelola adalah warga, kita hanya melakukan pendampingan dan pengecekan secara berkala. Namun, banyak pula lahan BTKD yang masih kita kelola, dan hasil panennya kita bagikan gratis kepada warga sekitar,” kata dia.


Sementara itu, Kepala Bidang Pertanian DKPP Kota Surabaya Rahmad Kodariawan memastikan bahwa sebenarnya warga juga antusias mengelola lahan BTKD itu untuk lahan pertanian. Makanya ke depan, seperti harapan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, warga yang termasuk dalam Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), bisa mengelola lahan BTKD ini.
“Lahan BTKD itu bisa dimanfaatkan oleh MBR. Jadi, MBR itu yang mengelola dari awal sampai akhir, kita bantu benih dan pupuknya serta pendampingannya, tapi yang mengelola mereka, dan hasil panennya bisa dimanfaatkan oleh mereka, bisa dimakan sendiri dan selebihnya bisa dijual untuk pemasukan mereka,” terangnya.
Karena itu, ia mengajak warga Kota Surabaya terutama para MBR untuk bersama-sama mengelola lahan BTKD. Lahan ini bisa dimanfaatkan, tidak perlu sewa.
“Kita berharap warga bertani di Kota Surabaya, dan ini untuk ketahanan pangan kita,” pungkasnya. (ST01)





