• Redaksi
  • Contact
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Selasa, 10 Maret 2026
-18 °c
  • Login
Surabaya Today
  • Home
  • Peristiwa
  • Politik & Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Ekbis
  • Serba Serbi
    • Olahraga
    • Sosbud
  • Daerah
  • Advertorial
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Politik & Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Ekbis
  • Serba Serbi
    • Olahraga
    • Sosbud
  • Daerah
  • Advertorial
  • Indeks
No Result
View All Result
Surabaya Today
No Result
View All Result
Home Daerah

Rencana Penggunaan BBM Bioetanol, Begini Pendapat Profesor ITS

by Redaksi
Sabtu, 8 November 2025
Prof Dr Ir Bambang Sudarmanta ST MT IPM AEng

Prof Dr Ir Bambang Sudarmanta ST MT IPM AEng

SURABAYATODAY.ID, SURABAYA -Pemerintah berencana mewajibkan pencampuran bahan bakar minyak (BBM) dengan bioetanol sebesar 10 persen atau E10. Kebijakan ini dinilai positif untuk mendorong energi bersih, tetapi memunculkan kekhawatiran soal dampaknya pada mesin kendaraan. Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Ir Bambang Sudarmanta ST MT IPM AEng pun memberikan pandangannya.

Terkait dengan isu tersebut, Bambang menjelaskan bahwa bioetanol adalah salah satu bahan bakar alternatif yang potensial, terbarukan, dan ramah lingkungan. Senyawa dengan rumus molekul C₂H₅OH ini memiliki sifat fisikokimia yang relatif mendekati bensin. “Sehingga bisa digunakan sebagai campuran (blending fuel) maupun pengganti sebagian bensin (substitute fuel),” imbuhnya.

Dosen Departemen Teknik Mesin ITS tersebut menambahkan bahwa bioetanol bersifat karbon netral. Artinya, emisi karbondioksida (CO₂) hasil pembakarannya bisa diserap kembali oleh tanaman penghasil bahan baku. Selain itu, potensi bahan baku seperti tebu dan singkong yang melimpah turut menjadikan bioetanol sebagai solusi untuk menekan emisi dan memperkuat ketahanan energi nasional.

BACA JUGA:  Tak Perlu Keluar Rumah, Jual Barang Rongsokan Pun Kini Bisa Online Lewat Aplikasi

Meski dinilai mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, rencana penerapan bioetanol rupanya menuai pro dan kontra di masyarakat. Beberapa pihak meragukan kesesuaian bahan bakar ini terhadap kendaraan konvensional di Indonesia yang memiliki beragam tipe dan usia mesin. Tak hanya itu, sifat higroskopisitas bioetanol pun menimbulkan keraguan akan penggunaannya di iklim tropis Indonesia.

Merespons kekhawatiran yang ada, Bambang membeberkan hasil penelitian yang telah ia lakukan terkait performa mesin dengan campuran bioetanol. Bambang menyebutkan, pencampuran 5 hingga 10 persen bioetanol pada bensin relatif tidak mengurangi performa daya dari kendaraan. “Baru pada kadar 15 hingga 20 persen, performa mulai menurun,” ungkap Manajer Senior Science Techno Park (STP) Klaster Otomotif ITS tersebut.

Lebih lanjut, dosen pengampu di Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi ini menjelaskan bahwa bioetanol memiliki angka oktan yang tinggi, yakni sekitar 108 hingga 120. Nilai tersebut membuat proses pembakaran lebih efisien sekaligus menurunkan risiko knocking pada mesin. “Dengan kata lain, mesin dapat bekerja lebih stabil saat menerima tekanan dan suhu yang tinggi,” terangnya.

BACA JUGA:  Sirkuit ITS Jadi Panggung Balap Gokart Listrik PLN ICE 2025

Terkait sifat higroskopis, Bambang tak menampik bahwa bioetanol memang mudah menyerap air terutama di iklim lembap Indonesia. Selain itu, sifat pelarut dan kecenderungannya teroksidasi membuat bioetanol berpotensi korosif pada logam maupun bahan karet. Maka diperlukan adaptasi material dan perawatan sistem bahan bakar yang tepat guna mempertahankan kualitasnya. “Selama penanganannya benar, risiko penurunan mutu bisa dihindari,” tegasnya.

Profesor yang menempuh pendidikan S1 hingga S3 di ITS ini juga menyoroti sisi lain dari penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar campuran. Ia menuturkan, bioetanol memiliki nilai kalor sekitar 35 persen lebih rendah dibanding bensin. Hal ini menyebabkan energi yang dihasilkan dari proses pembakaran akan sedikit lebih kecil. “Namun efeknya tidak terlalu signifikan pada kadar campuran rendah hingga 10 persen,” ujar Bambang.

BACA JUGA:  Pj Gubernur Adhy Ajak Kontribusi untuk Bangsa Melalui Prestasi dan Inovasi

Melihat potensi sekaligus tantangan yang ada, Bambang menilai bahwa penerapan bioetanol sebagai bahan bakar campuran perlu disiapkan secara menyeluruh. Mulai dari sisi pasokan bahan baku, teknologi pencampuran dan penyimpanan yang sesuai, hingga sistem distribusi yang efektif. “Setiap tahap harus diawasi dengan ketat agar mutu bahan bakar tetap stabil,” papar Kepala Pusat Unggulan Iptek Sistem dan Kontrol Otomotif (PUI-SKO) ITS periode 2020 – 2022 ini.

Pengembangan bahan bakar ramah lingkungan ini juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke-7 yakni Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-13 yakni Penanganan Perubahan Iklim. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan pemahaman publik yang baik, Indonesia diyakini mampu melangkah menuju sistem energi yang lebih hijau dan berkelanjutan. (ST05)

Tags: BBM BioetanolITSProfesor
ShareTweetSendShareSend

Related Posts

Foto bersama di sela kegiatan pemberian santunan kepada anak yatim dan berbuka puasa bersama di DPRD Surabaya.

DPRD Surabaya Santuni Anak Yatim dan Gelar Buka Puasa Bersama

Senin, 9 Maret 2026

Pelayanan Perumda Air Minum Surya Sembada Tetap Siaga Selama Libur Lebaran

Senin, 9 Maret 2026

Paket Cinta Kasih, Buddha Tzu Chi Hadirkan Senyum Warga Sidotopo Wetan Jelang Idul Fitri

Senin, 9 Maret 2026

Hadiri Buka Puasa Bersama Menteri Agama RI dan REI Jatim, Gubernur Khofifah Ajak Perkuat Sinergi Percepatan Hunian Layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Senin, 9 Maret 2026

Berita Terkini

Foto bersama di sela kegiatan pemberian santunan kepada anak yatim dan berbuka puasa bersama di DPRD Surabaya.

DPRD Surabaya Santuni Anak Yatim dan Gelar Buka Puasa Bersama

Senin, 9 Maret 2026

Pelayanan Perumda Air Minum Surya Sembada Tetap Siaga Selama Libur Lebaran

Senin, 9 Maret 2026

Paket Cinta Kasih, Buddha Tzu Chi Hadirkan Senyum Warga Sidotopo Wetan Jelang Idul Fitri

Senin, 9 Maret 2026

Hadiri Buka Puasa Bersama Menteri Agama RI dan REI Jatim, Gubernur Khofifah Ajak Perkuat Sinergi Percepatan Hunian Layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Senin, 9 Maret 2026

Tak Sekadar Wisata Alam, Hutan Kota Jeruk Surabaya Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Warga

Senin, 9 Maret 2026
Surabaya Today

© 2019 Surabaya Today

Navigate Site

  • Redaksi
  • Contact
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Politik & Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Ekbis
  • Serba Serbi
    • Olahraga
    • Sosbud
  • Daerah
  • Advertorial
  • Indeks

© 2019 Surabaya Today

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In