SURABAYATODAY.ID, MALANG – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan gedung Rehabilitasi Medik Terpadu dan Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah dr Saiful Anwar (RSSA), Kota Malang, Sabtu (11/11). Gedung setinggi 7 lantai dibangun dengan biaya kurang lebih Rp 95 miliar.
Pelayanan Rehabilitasi Medik Terpadu RSSA melayani kebutuhan pasien secara holistik. Mulai dari anak-anak dengan gangguan tumbuh kembang serta remaja dengan keluhan kecelakaan lalu lintas hingga cidera olahraga. Tidak hanya itu, bagi lansia yang memiliki gangguan degeneratif (nyeri pinggang, nyeri lutut) juga bisa dilayani di sini.
Selain itu, rehabilitasi medik terpadu memiliki layanan unggulan yakni pelayanan stroke. Sebab, RSSA memiliki alat terapi untuk menstimulasi motorik dan sensorik serta gangguan koginitif pasien stroke. Alat tersebut juga bisa diperuntukkan bagi anggota gerak atas dan anggota gerak bawah pasien stroke.
Berdasarkan data dari RSSA, pada gedung rehabilitasi medik terpadu ini memiliki beberapa fasilitas. Di antaranya, ruang terapi whole body training, ruang terapi cog training, ruang terapi okupasi dewasa, ruang terapi wicara dewasa, ruang gymnasium anak, ruang terapi modalitas, klinik radio respirasi, dan rehabilitasi medik umum.
Hal tersebut juga didukung dengan tim yang memiliki latar belakang multiprofesi. Bukan hanya dari dokter spesialis rehabilitasi medik, melainkan juga didukung dengan para terapis yang memiliki keahlian terapi wicara, terapi okupasi, fisoterapis, hingga psikis sosial medis.
Rehabilitasi medik terpadu RSSA ini juga turut mengedepankan bukan hanya sembuh dari sebuah penyakit melainkan juga berfokus meningkatkan kualitas dan kemandirian pasien yang telah sembuh menuju kembali bekerja sebagai makhluk sosial.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr Saiful Anwar (RSSA) Dr dr Mochamad Bachtiar Budianto menyampaikan bahwa RSSA memiliki kapasitas 884 Tempat Tidur (TT). “Insya Allah akhir tahun ini dalam proses pembangunan TT VIP dengan jumlah 100. Sehingga tahun depan bisa melayani lebih dari 900 TT,” ujarnya.
Pembangunan gedung baru ini didasari atas kebutuhan pelayanan semakin meningkat usai tertanganinya Covid-19 di Jatim. “Bahkan peningkatan layanan pasien ini meningkat jauh dibanding sebelum Covid-19,” katanya.
Karenanya dengan meningkatnya pasien tersebut, pembangunan gedung ini menjadi penting. “Total ada tujuh lantai untuk gedung ini. Di mana 4 lantai difokuskan untuk pelayanan rehabilitasi medik dan 3 lantai sisanya digunakan sebagai pelayanan manajemen. Ini semua karena kami ingin memberikan pelayanan yang lebih memadai bagi pasien kita,” ucapnya.
Dengan kunjungan 1.200 per harinya, keberadaan gedung dengan fokus pada pelayanan rehabilitasi medik terpadu menjadi sangat penting. “Karena kini, kami sudah bisa melakukan operasi bedah jantung terbuka atas bimbingan dari RSUD dr Soetomo dengan total pasien tertangani sebanyak 50 orang. Juga pada tahun ini kami pertama kalinya sukses melakukan operasi pemisahan kembar siam, hingga melayani kateterisasi jantung lebih dari 10 per hari,” jelasnya. (ST02)





